rasapikir

merasakan pikir memikirkan rasa

Month: March, 2016

tempatku bercerita

langit, tema yang kupilih untuk tantangan ketiga menulis blog bersama Deesan dan Gita. Beberapa hari ketika ingat mendapatkan tugas memilih tema membuatku sering tiba-tiba tertegun “ah, apa ya temanya?” tiba-tiba aku memandang ke jendela, melihat langit yang kelabu, mendung menggantung disana. Entah apa yang ada di benakku ketika memilih Langit sebagai tema. Mungkin karena bagiku langit selalu memiliki daya yang kuat, mata selalu tersemat kuat enggan beranjak pandang.

jika hujan datang, sering kutengadahkan kepala menanti air hujan membasahi wajah, ada apa dengan langit? Apakah ia bersedih tak terkira hingga tangisnya begitu deras turun ke bumi? Apakah dari atas sana pandangannya yang luas hingga dapat melihat apa saja yang terjadi di bumi membuatnya pilu? Duuuh kasihan Langit…

lain lagi ketika kilat dan petir bersahutan sambar menyambar di langit yang luas, gelegarnya terasa sangat dekat dari atap rumah. Menakutkan. Kenapa lagi langit sekarang? Dulu, aku mencintai hujan dengan segala yang menyertainya, hujan dulu berbeda rasanya dengan hujan sekarang. “Disini di kota ini, hujan dapat dinanti”, begitu celetuk seorang teman yang diam-diam aku iyakan. Dulu di kampungku, hujan tak pernah dapat dikira kapan berhentinya. Tetapi bau tanah saat hujan turun masih sama, syukurlah, masih ada sisa yang dapat kukenang dari hujan yang tumpah dari langit.

pernah suatu ketika di langit Jailolo, Halmahera Barat, saat memandang langit, bintang-bintang bertaburan, seperti kesulitan mencari ruang untuk memendarkan cahaya mereka dibentangan langit, karena sangat banyak bintang yang memenuhi langit. Indah sekali.

rasa yang timbul berbeda setiap kali melihat langit yang beraneka. Awan aku duga paham apa yang sedang dirasakan langit, mereka begitu dekat dan akrab. Pernahkan mereka berdua merencanakan sesuatu untuk kita di bumi? Adakah langit membiarkan awan menyampaikan ceritanya melalui titik kulminasi yang kemudian menjadi hujan? Ah, aku ingin main ke langit.

kubayangkan ketika tidur dilapangan rumput yang luas sambil memandang langit, menciptakan sebuah puisi;

merebahkan diri
direrumputan ini
menatap langit sepi
tetapi aku tidak sendiri
ada yang membayangi
mata telaga seperti
dalam menghanyuti
riak-riak hati

Ya, langit juga adalah tempat aku bercerita.

Advertisements

rantau ini Ma

ma,

apa kabarmu?

kuharap engkau baik

lama juga ya kita tak bercakap

usah risau, ma, aku baik-baik saja…

ma, aku tidak bohong, jangan begitu melihatku

aku tau pandang batinmu begitu tajam

ma tolonglah…!

baik ma…aku disini kini, bersama onak duri, kerikil jahil

tanah hijau yang kukira kan teduhkan pandang dan hati

ternyata hanya ilalang

tapi aku tak mungkin kembali

tradisi rantau itu mengikatku

tapi bukankah itu yang membuatku kuat ma?

rantau adalah rindu yang kuikatkan pada pongahnya ego

tapi tak mengapa, doamu selalu sertai langkahku.

terima kasih ma, rindu selalu padamu.

pamenan mato hati

pamenan mato hati,

begitu aku ingin memanggilmu, sebuah nama yang kumaksudkan penuh isyarat perlindungan ketika angin menggigilkan, ketika mentari menyilaukan.

aku akan berlari menujumu, berlindung dimatamu yang dalam. mata tempat bermain dan mengenali setiap kedip, rupa segala tatap. matamu adalah jendela, pamenan. jendelaku akan pengetahuan.

pamenan mato hati,

ingin kusisipkan doa bahwa hatimu serupa rumah dimana aku bisa menjadi apa saja yang ku mau dan kau memberikan seluas ruang yang mampu kau berikan. luas sekali. aku bisa menyampaikan segala rasa segala pikir yang dengan senang kau tampung dalam bejana cinta.

rumahmu adalah sekolah kehidupan, kekasih. ajar dan perlakukan aku seperti murid baru. aku akan menjadi murid yang antusias riang spontan dihadapanmu. akan kujelajahi setiap ruang, detail garis yang kau suka, aroma ruang yang membuatmu betah menyiapkan pekerjaan rumah untukku. hatimu adalah sanctuaryku, pamenan. dimana betahku meraja

aku seperti kerbau yang dicocok hidungnya? ah, kau tak akan berpikir seperti itu, kau hanya akan melihat itu seperti sebuah kepatutan. semestinya sebuah kewajaran. terima kasih, pamenan.

*tulisan diatas adalah sebuah pengharapan bagaimana saya melihat, menginginkan seorang teman jiwa. ditulis atas sebuah kesepakatan dengan deesan dan adekgita agar blog ini terisi dengan usaha untuk menulis yang seringkali saya abaikan. tulisan yang diberi tema berbeda setiap minggu, dan yang pertama ini “jodoh”, sebuah misteri.

seringkali mungkin semua kartu undangan mengutip bahwa setiap orang berpasang-pasangan, …perempuan baik untuk yang baik, begitu sebaliknya. maka kusimpulkan dengan berusaha menjadi baik, tapi kenapa tak kunjung ada, atau usaha untuk menjadi baik itu masih kurang? dan ditambahlah usaha itu dengan memasuki pintu-pintu peluang, namun apa dinyana, mereka yang dalam peluang itu belum siap atau belum mau menjadi peluang, lalu?

biarkan waktu yang menjawab, iringi dengan prasangka baik. Insya Allah.