tempatku bercerita

by rasapikir

langit, tema yang kupilih untuk tantangan ketiga menulis blog bersama Deesan dan Gita. Beberapa hari ketika ingat mendapatkan tugas memilih tema membuatku sering tiba-tiba tertegun “ah, apa ya temanya?” tiba-tiba aku memandang ke jendela, melihat langit yang kelabu, mendung menggantung disana. Entah apa yang ada di benakku ketika memilih Langit sebagai tema. Mungkin karena bagiku langit selalu memiliki daya yang kuat, mata selalu tersemat kuat enggan beranjak pandang.

jika hujan datang, sering kutengadahkan kepala menanti air hujan membasahi wajah, ada apa dengan langit? Apakah ia bersedih tak terkira hingga tangisnya begitu deras turun ke bumi? Apakah dari atas sana pandangannya yang luas hingga dapat melihat apa saja yang terjadi di bumi membuatnya pilu? Duuuh kasihan Langit…

lain lagi ketika kilat dan petir bersahutan sambar menyambar di langit yang luas, gelegarnya terasa sangat dekat dari atap rumah. Menakutkan. Kenapa lagi langit sekarang? Dulu, aku mencintai hujan dengan segala yang menyertainya, hujan dulu berbeda rasanya dengan hujan sekarang. “Disini di kota ini, hujan dapat dinanti”, begitu celetuk seorang teman yang diam-diam aku iyakan. Dulu di kampungku, hujan tak pernah dapat dikira kapan berhentinya. Tetapi bau tanah saat hujan turun masih sama, syukurlah, masih ada sisa yang dapat kukenang dari hujan yang tumpah dari langit.

pernah suatu ketika di langit Jailolo, Halmahera Barat, saat memandang langit, bintang-bintang bertaburan, seperti kesulitan mencari ruang untuk memendarkan cahaya mereka dibentangan langit, karena sangat banyak bintang yang memenuhi langit. Indah sekali.

rasa yang timbul berbeda setiap kali melihat langit yang beraneka. Awan aku duga paham apa yang sedang dirasakan langit, mereka begitu dekat dan akrab. Pernahkan mereka berdua merencanakan sesuatu untuk kita di bumi? Adakah langit membiarkan awan menyampaikan ceritanya melalui titik kulminasi yang kemudian menjadi hujan? Ah, aku ingin main ke langit.

kubayangkan ketika tidur dilapangan rumput yang luas sambil memandang langit, menciptakan sebuah puisi;

merebahkan diri
direrumputan ini
menatap langit sepi
tetapi aku tidak sendiri
ada yang membayangi
mata telaga seperti
dalam menghanyuti
riak-riak hati

Ya, langit juga adalah tempat aku bercerita.

Advertisements