dukana

by rasapikir

​riang sekali angin itu memutar dedaunan, berloncatan bersama debu, tak beraturan.

“hei, pesan yang kutitipkan jangan sampai jatuh!”

aah…hati sedang sesak begini rupa

“itu…itu diatas sana, awan menggantungkan kelabu begitu lama sedang kemarau semestinya telah disini”

aah, luka kapan kering jika begini?

“duhaai haai Dukana, 

lihat…lihaatlah…semuanya seperti bersekutu denganmu 

Advertisements