rasapikir

merasakan pikir memikirkan rasa

Category: Puisi

pamenan mato hati

pamenan mato hati,

begitu aku ingin memanggilmu, sebuah nama yang kumaksudkan penuh isyarat perlindungan ketika angin menggigilkan, ketika mentari menyilaukan.

aku akan berlari menujumu, berlindung dimatamu yang dalam. mata tempat bermain dan mengenali setiap kedip, rupa segala tatap. matamu adalah jendela, pamenan. jendelaku akan pengetahuan.

pamenan mato hati,

ingin kusisipkan doa bahwa hatimu serupa rumah dimana aku bisa menjadi apa saja yang ku mau dan kau memberikan seluas ruang yang mampu kau berikan. luas sekali. aku bisa menyampaikan segala rasa segala pikir yang dengan senang kau tampung dalam bejana cinta.

rumahmu adalah sekolah kehidupan, kekasih. ajar dan perlakukan aku seperti murid baru. aku akan menjadi murid yang antusias riang spontan dihadapanmu. akan kujelajahi setiap ruang, detail garis yang kau suka, aroma ruang yang membuatmu betah menyiapkan pekerjaan rumah untukku. hatimu adalah sanctuaryku, pamenan. dimana betahku meraja

aku seperti kerbau yang dicocok hidungnya? ah, kau tak akan berpikir seperti itu, kau hanya akan melihat itu seperti sebuah kepatutan. semestinya sebuah kewajaran. terima kasih, pamenan.

*tulisan diatas adalah sebuah pengharapan bagaimana saya melihat, menginginkan seorang teman jiwa. ditulis atas sebuah kesepakatan dengan deesan dan adekgita agar blog ini terisi dengan usaha untuk menulis yang seringkali saya abaikan. tulisan yang diberi tema berbeda setiap minggu, dan yang pertama ini “jodoh”, sebuah misteri.

seringkali mungkin semua kartu undangan mengutip bahwa setiap orang berpasang-pasangan, …perempuan baik untuk yang baik, begitu sebaliknya. maka kusimpulkan dengan berusaha menjadi baik, tapi kenapa tak kunjung ada, atau usaha untuk menjadi baik itu masih kurang? dan ditambahlah usaha itu dengan memasuki pintu-pintu peluang, namun apa dinyana, mereka yang dalam peluang itu belum siap atau belum mau menjadi peluang, lalu?

biarkan waktu yang menjawab, iringi dengan prasangka baik. Insya Allah.

 

 

 

menggenapkan perpisahan

Tolong…

pada ibu

pulanglah duhai hati yang tlah lemah.
pulang pada peluk Ibu yang tak pernah lengah.

untuk waktu

terima kasih untuk waktu
dan segala yang menyertainya.

sia – sia

aku menguntai desir
dan menambatkannya
di poros angin
sia – sia
ha ha ha…

mercusuar

telah kubentuk rindu ini serupa mercusuar
tinggi, terang, berputar-putar, tak pernah letih mencarimu.
tak ada.
“apakah kau bersembunyi di palung terdalam hatinya?”

jangan puisi

“tulislah sebuah puisi, pendek saja”, katamu.



“penaku patah”

seperti itulah

pernahkah kau menggigil menanti pagi,
sedang malam merayap perlahan sekali?
seperti itulah, seperti itulah.

tajam

segerombolan bait pontang panting membentuk lingkaran.
huruf besar berdiri di tengah,
“kita tajam, mari menyayat!”