rasapikir

merasakan pikir memikirkan rasa

tenang

​hatiku tenang karena mengetahui bahwa apa yang melewatkanku tidak akan pernah menjadi takdirku

dan 

apa yang ditakdirkan untukku tidak akan pernah melewatkanku.

**Umar bin Khatab**

c1tpd4jucaaebkn.jpg

tugas 

tadinya sebuah telinga yang siap mendengarkan. 

mulut lain tergoda untuk bercerita. 

kemudian ceritanya menguap entah kemana.

sepipun bersesalan.

let it go

​”terima kasih sudah mendengarkanku, Brother!”

Saat peristiwa sedih datang padamu, bagaimana kau menamakan perasaan-perasaan yang timbul? Ada perih, marah, kecewa, kehilangan, penyesalan bahkan rasa yang tak dapat diidentifikasikan. Datang menyelinap menguasai hati, terus menelusup kedalam dan kau tahu? sebesar apapun usaha untuk menghadangnya, mereka terus saja tidak peduli. Ada dan mengaktual. Watch them!

Kau merasa sendiri, tiba-tiba feelin’ like something missing, sejumlah kata penghiburan, baik yang datang dari orang lain ataupun dari diri sendiri akan diperangi oleh ego manusiawi kita, rasa kita, intelegensia kita dan that is you as a being, not the true You.

Karenanya jangan biarkan diri hanyut oleh perasaan-perasaan yang dimunculkan oleh pengalaman apapun. Ijinkan diri kita menyaksikan apa yang tengah terjadi. Duduk manis dan tenang, sambil mengatur nafas dan menjadi penonton atas diri sendiri. Melihat peristiwa dalam format big picture atas apa-apa yang sudah atau tengah terjadi bisa menjadi cara untuk menerima. 

Tetapi big picture cuma bisa dilihat oleh orang yang keluar dari objek-subjek. Apa yang terjadi dilihat sebagai sesuatu yang wajar dan alamiah. Kelahiran-kedatangan, Kematian-kepergian bukanlah hal yang istimewa. Ia menjadi istimewa ketika kita tampil dalam predikat subjek-objek.

Idealnya, ini juga berlaku untuk menangkal dukalara, pun rianggembira. Untuk jadi paling tidak, seimbang.

Mari tenang, lihat dan let you know yourself.

paling ingat

adzan magrib menggema 

kaki dingin

kepala-kepala tunduk 

airmata ditampung sungguh-sungguh

“bisa sendiri”

“asyhadu an-laa ilaaha illallaah, wa asyhadu anna muhammadan rasuulullaah”

“maaaaaaaa…”

daun jatuh

tangis berhamburan 

*28 maret 1997

ingin (di lima tahun ke depan)

Tuhan

.

..

….

…..

……

…….

ah, aku bahkan tak punya keberanian untuk meminta, padaMu.

dukana

​riang sekali angin itu memutar dedaunan, berloncatan bersama debu, tak beraturan.

“hei, pesan yang kutitipkan jangan sampai jatuh!”

aah…hati sedang sesak begini rupa

“itu…itu diatas sana, awan menggantungkan kelabu begitu lama sedang kemarau semestinya telah disini”

aah, luka kapan kering jika begini?

“duhaai haai Dukana, 

lihat…lihaatlah…semuanya seperti bersekutu denganmu 

tempatku bercerita

langit, tema yang kupilih untuk tantangan ketiga menulis blog bersama Deesan dan Gita. Beberapa hari ketika ingat mendapatkan tugas memilih tema membuatku sering tiba-tiba tertegun “ah, apa ya temanya?” tiba-tiba aku memandang ke jendela, melihat langit yang kelabu, mendung menggantung disana. Entah apa yang ada di benakku ketika memilih Langit sebagai tema. Mungkin karena bagiku langit selalu memiliki daya yang kuat, mata selalu tersemat kuat enggan beranjak pandang.

jika hujan datang, sering kutengadahkan kepala menanti air hujan membasahi wajah, ada apa dengan langit? Apakah ia bersedih tak terkira hingga tangisnya begitu deras turun ke bumi? Apakah dari atas sana pandangannya yang luas hingga dapat melihat apa saja yang terjadi di bumi membuatnya pilu? Duuuh kasihan Langit…

lain lagi ketika kilat dan petir bersahutan sambar menyambar di langit yang luas, gelegarnya terasa sangat dekat dari atap rumah. Menakutkan. Kenapa lagi langit sekarang? Dulu, aku mencintai hujan dengan segala yang menyertainya, hujan dulu berbeda rasanya dengan hujan sekarang. “Disini di kota ini, hujan dapat dinanti”, begitu celetuk seorang teman yang diam-diam aku iyakan. Dulu di kampungku, hujan tak pernah dapat dikira kapan berhentinya. Tetapi bau tanah saat hujan turun masih sama, syukurlah, masih ada sisa yang dapat kukenang dari hujan yang tumpah dari langit.

pernah suatu ketika di langit Jailolo, Halmahera Barat, saat memandang langit, bintang-bintang bertaburan, seperti kesulitan mencari ruang untuk memendarkan cahaya mereka dibentangan langit, karena sangat banyak bintang yang memenuhi langit. Indah sekali.

rasa yang timbul berbeda setiap kali melihat langit yang beraneka. Awan aku duga paham apa yang sedang dirasakan langit, mereka begitu dekat dan akrab. Pernahkan mereka berdua merencanakan sesuatu untuk kita di bumi? Adakah langit membiarkan awan menyampaikan ceritanya melalui titik kulminasi yang kemudian menjadi hujan? Ah, aku ingin main ke langit.

kubayangkan ketika tidur dilapangan rumput yang luas sambil memandang langit, menciptakan sebuah puisi;

merebahkan diri
direrumputan ini
menatap langit sepi
tetapi aku tidak sendiri
ada yang membayangi
mata telaga seperti
dalam menghanyuti
riak-riak hati

Ya, langit juga adalah tempat aku bercerita.

rantau ini Ma

ma,

apa kabarmu?

kuharap engkau baik

lama juga ya kita tak bercakap

usah risau, ma, aku baik-baik saja…

ma, aku tidak bohong, jangan begitu melihatku

aku tau pandang batinmu begitu tajam

ma tolonglah…!

baik ma…aku disini kini, bersama onak duri, kerikil jahil

tanah hijau yang kukira kan teduhkan pandang dan hati

ternyata hanya ilalang

tapi aku tak mungkin kembali

tradisi rantau itu mengikatku

tapi bukankah itu yang membuatku kuat ma?

rantau adalah rindu yang kuikatkan pada pongahnya ego

tapi tak mengapa, doamu selalu sertai langkahku.

terima kasih ma, rindu selalu padamu.

pamenan mato hati

pamenan mato hati,

begitu aku ingin memanggilmu, sebuah nama yang kumaksudkan penuh isyarat perlindungan ketika angin menggigilkan, ketika mentari menyilaukan.

aku akan berlari menujumu, berlindung dimatamu yang dalam. mata tempat bermain dan mengenali setiap kedip, rupa segala tatap. matamu adalah jendela, pamenan. jendelaku akan pengetahuan.

pamenan mato hati,

ingin kusisipkan doa bahwa hatimu serupa rumah dimana aku bisa menjadi apa saja yang ku mau dan kau memberikan seluas ruang yang mampu kau berikan. luas sekali. aku bisa menyampaikan segala rasa segala pikir yang dengan senang kau tampung dalam bejana cinta.

rumahmu adalah sekolah kehidupan, kekasih. ajar dan perlakukan aku seperti murid baru. aku akan menjadi murid yang antusias riang spontan dihadapanmu. akan kujelajahi setiap ruang, detail garis yang kau suka, aroma ruang yang membuatmu betah menyiapkan pekerjaan rumah untukku. hatimu adalah sanctuaryku, pamenan. dimana betahku meraja

aku seperti kerbau yang dicocok hidungnya? ah, kau tak akan berpikir seperti itu, kau hanya akan melihat itu seperti sebuah kepatutan. semestinya sebuah kewajaran. terima kasih, pamenan.

*tulisan diatas adalah sebuah pengharapan bagaimana saya melihat, menginginkan seorang teman jiwa. ditulis atas sebuah kesepakatan dengan deesan dan adekgita agar blog ini terisi dengan usaha untuk menulis yang seringkali saya abaikan. tulisan yang diberi tema berbeda setiap minggu, dan yang pertama ini “jodoh”, sebuah misteri.

seringkali mungkin semua kartu undangan mengutip bahwa setiap orang berpasang-pasangan, …perempuan baik untuk yang baik, begitu sebaliknya. maka kusimpulkan dengan berusaha menjadi baik, tapi kenapa tak kunjung ada, atau usaha untuk menjadi baik itu masih kurang? dan ditambahlah usaha itu dengan memasuki pintu-pintu peluang, namun apa dinyana, mereka yang dalam peluang itu belum siap atau belum mau menjadi peluang, lalu?

biarkan waktu yang menjawab, iringi dengan prasangka baik. Insya Allah.